Thursday, 18 April 2013

AKU TERUS MENULIS DI BENTANGAN HARI


AKU TERUS MENULIS DI BENTANGAN HARI
*******************************
*******************************
*******************************

Kudekap malam ini, 
berteriak diam merobek jiwa sepih,
ingin kuterjang sepih membela derai hujan
melepas rindu tertahan
lupakan rasa ini
cukup sejenak
kudekap malam

masih kugenggam erat rasa ini
kutahu waktunya akan tiba
menyusuri guratan sunyi,
guratan duka pisah
getaran tangismu merobek sukma

ingin kedekap
biarkan terurai di pangkuanku
biarkan kau sandarkan sejenak harapan sebelum lepas
kita memilih jalan

kudekap malam ini,
di sini
aku menulis puisi ini
berharap
matamu sanggup membaca
pesan di balik duka

kugoreskan bait sunyi
tapi tak kubacakan
kupahat sepih tapi tak kupajang
kurangkai harapan, dari serpihan waktu

Kudekap malam ini
di sini kuputar syair waktu,
irama pertama dari sanjak 
saat kubacakan 

malam ini kugoreskan puisi ini
harap hari esokmu
secerah mentari memahat rasa
di bentangan hari-harimu...

malam ini
kudekap sepih
terus kudekap
kapan berakhir
di sini
aku terus menulis.....
memahat namamu....

Uran Oncu, 19 April 2013.

Wednesday, 17 April 2013

INI KURSI INI MEJA SEKOLAH


ini Kursi,

ini meja

berumur sepanjang azah mengepul

termakan rayap, tapi satu pasti

setiap pagi deretan seragam puith merah

berbagi cerita,

menyapamu, coba bersihkan dengan tangan-tangan kecil mereka



Ini kursi,

ini meja

terus jadi saksi

saat ia anak manusia

belajar membaca,

memahami

belajar menata kata untuk hari

merangkai kalimat untuk esok

di sini

ia memulai ziarah


ini kursi

ini meja

dalam kesederhanaan

ia bertutur banyak…



Untuk bu Guru berinisial R

www.kompasiana.com/uran

KETIKA IA MELANGKAH




di sudut diam, tiada berita

sang Pujangga melantunkan Mazmur,

sebait doa buat sahabatnya,

di simpang waktu ia menatap tulisan namamu

sebelum mengayun tapak selanjutnya”

ia

merindukanmu

Sunday, 14 April 2013

Di Depan Berandamu

"aku seperti peziarah, menapak tapal batas.

 Dahagaku kering, 

"mencoba mampir di beranda pondok, 

sekedar memohon setetes air. 

Dan seandainya yang membuka pintu itu kamu,

 ijinkan aku agak lama menatap diam...."


Uran Oncu, 14 April 2013

www.kompasian.com/uran

Eastern Churches remember St. Anastasius of Sinai on April 20 :: Catholic News Agency (CNA)

Eastern Churches remember St. Anastasius of Sinai on April 20 :: Catholic News Agency (CNA)

Saturday, 13 April 2013

Ketika Daun Sukun Melepas dari Dahan


Dentang lonceng Gereja masih tersangkut di pohon sukun, waktu masih menanti detak berikutnya. Aku bergegas lebih cepat sore itu, agar lebih banyak waktu berdiam sunyi di sudut doa. Langkahku terhenti menatap sosok di bawa pohon sukun, sumringan senyumnya menatap gadis kecil bermain kelereng. Hai Vero, apa kabar, kusapa lembut menatap tajam. Ia terkejut…
Terlintas sejenak di beranda waktu, saat aku menaruh harapan , sejumput rindu mengenalnya. Namun kisah ini hilang di sudut waktu saat ia hilang bersama deru sepeda motor, mengukir hari-harinya bersama pilihannya. Aku tertegun  menatap kosong, diam menepi di lorong malam itu.
Lamunanku buyar saat ia menyapa, Bang Ini anakku.. gadis kecil dengan bola mata berbinar, beralis tebal, terus tersenyum dan mencoba membersihkan tangannya dengan ujung baju. Dea namuku om..
Mana suamimu? tanyaku…
dia tersenyum, menatap lurus.  Diam.  hening. tanganya  sigap menggapai daun suku yang jatuh. satu hentakan ia gengam daun ini. Apakah salah pertanyaan aku ini, jiwaku gelisah..
Gadis kecilnya terus bermain, berlari menyongsong pantulan kelerang…
sejenak ia mainkan daun ini, menyibak keraguan. diserahkan daun tua ke tanganku sambil tersenyum ia berbisik pelan
” Kami baru pulang dari pernikahan ayahnya Dea”
angin sore ini melambaikan perpisahaan, daun sukun tua terus berjatuhan, lepas bebas melayang. Sebelum daun itu menyentuh tanah Ia sigap menggapai , menyusunnya. Aku hanya diam, bingung.  ”Kami baru pulang dari pernikahan ayahnya Dea” terngiang terus…
Bang kok bingung,  sapanya menegaskan ketegaran.
Ya aku bingung, kamu bisa setegar itu ya….
Ya mau apalagi bang, dia kan sudah memilih yang lain.  Sakit hati tapi aku harus hidup, aku harus kuat, aku harus sehat demi masa depan Dea,…
Hidup itu harus bergerak, daun tua melepas pisah, melayang pelan. Terkumpul di sudut hari, membiarkan diri terurai jadi pupuk. Di dahan ia pernah ada, muncul kehidupan baru, tunas baru.
Detang lonceng sadarkan aku,  hidup itu pilihan.  Melepas bebas agar tumbuh harapan.
” Aku tidak menuntut apa-apa. Aku tidak mau ribut karna tuntutan. Aku ingin bebas, tenang mengasuh dan mendidik buah hatiku ini”.
pernyatan demi pernyataan, untaian kalimatnya membuat aku tertegun. Senyumnya gambarkan ketegaran, kesigapannya membuktikan Hidup itu bergerak maju..
tapi sekuatkah dia?
yuk bang kita masuk dalam Gereja
aku melangkah menuju Gereja, kusandarkan kedua lututuku, mencoba cari jawaban, apa kekuatan di balik ketegaran jiwanya. Bekatup tangan diam. Semakin diam aku  sadar,
kupalingkan wajah menatap ke barisan mereka, ia berlutut diam, …
” Ya Doa dan Kepasrahan adalah Sumber Kekuatan”
Vero, wanita yang hadir membasuh wajah Tuhan berlumuran dara, hadir menyapaku membasuh imanku yang masih kerdil ini …
Tuhan, aku tidak tau berdoa sore ini, ajari aku ketegran dan ketenangan seperti tangan diam terkatup itu.



Uran Oncu, 14 April 2013

Friday, 12 April 2013

MENJADI FILSUF BERPAKAIN PETANI

Menjadi Petani

"Several Hundered million peasants will rise like a mighty storm, a force so swift and violent, that no power  great , will be able to hold it back (Beberapa ratus juta petani akan bangkit bagaikan angin topan, suatu kekuatan yang sedemikian cepat dan hebat, sehingga tidak ada kekuatan, betapa besar sekalipun akan mampu menariknya mundur" ( Mao Zedong, 1893-1976)


Ketika menjalani masa liburan Desember 2012 di kampung halamanku, aku menikmati hari-hari liburku dengan bekerja di Ladang. Hari-hariku begitu indah. Aku berangkat pagi-pagi saat sang Mentari belum menyibak tirainya, kubasuh tubuhku tiap pagi bersama embun, kugerakan jiwaku bersama putaran pacul, kubuat lubang tampunga air hujan, kudendangkan gita Cinta bersama nyanyian burung-burung dan desa dedaunan.

Menjadi petani, kenapa tidak... itulah sepenggal refleksiku saat melepas lelah di pondok tua. Petani adalah Filsuf yang memahami makna kehidupan, saat kekeringan, saat hasil ladang diporakporandakan oleh angin topan, saat hama menyerang tanaman, saat stok makanan di lumbung menyisahkan bibit untuk musim depan, Ia petani tetap menaruh harapan. Melewati hari-hari penuh tantangan tidak membuat mereka melepaskan Harapan.

Menjadi Petani,.....
Petani terus bekerja tanpa diperintah, ia terus menata harapan, ia terus bergerak, setiap tapak terayun sepenaggal doa, setiap gemerincing pacul beradu batu memercikan api harapan, setiap tetes mengalir mengairi rahim kehidupan

Menjadi Petani....
aku rindu menjadi petani, mewariskan kisah ini dari orang tuaku. Akan kukisahkan kembali dengan cara baru. Menjadi petani adalah Panggilan Pelayanan, Panggilan Profetis, menjadi Guru dari diri sendiri, mejadi pelaku dari sepetak ladang, menjadi pembawa harapan ketika menemukan cara baru untuk perubahaan.

Menjadi Petani
sudah waktunya generasi mudah, para Sarjana kembali ke desa membangun kampung halanman
Sudah waktunya semangat menjadi PNS ditanggalkan, kita kenakan baju petani, di pondok tua kita berbagi ilmu dan teknologi, di atas bukit batu kita renungkan untuk sebuah perubahaan, di garis petak kita ukirkan perubahaan...

Menjadi Petani...
aku Rindu.....

sepenggal dari catatan Harian...


Uran Oncu, 13 April 2013


www.kompasiana.com/uran
http://uranoncu.wordpress.com

Foto- Foto Ritual Memohon Hujan












Sumber Foto : Fiddel Mudah

Kaitlyn Maher - 5yo - Ave Maria

Temukan Rahasia Warisan Leluhur: RITUAL MEMOHON HUJAN PADA SANG PENCIPTA MELALUI WU...

Temukan Rahasia Warisan Leluhur: RITUAL MEMOHON HUJAN PADA SANG PENCIPTA MELALUI WU...: Sumber Foto; Fiddel Mudah www.komoasiana.com/uran

RITUAL MEMOHON HUJAN PADA SANG PENCIPTA MELALUI WULU PENJELMAAN DEWI HUJAN












Sumber Foto; Fiddel Mudahwww.komoasiana.com/uran

Wednesday, 10 April 2013

MEMAKNAI WARISAN BUDAYA PATUNG WULU DALAM REFLEKSI KEHIDUPAN MASYARAKAT LEWOTOBI


MEMAKNAI WARISAN BUDAYA
PATUNG WULU DALAM REFLEKSI KEHIDUPAN MASYARAKAT LEWOTOBI

Di belantara hutan, di lereng Gunung Api Lewotobi, sebuah peradapan menuturkan pada generasi tentang nilai-nilai kehidupan. Di dalam gua kecil, dikelilingi hutan lebat, sebuah pesan disampaikan, digemahkan “ ta’o go rae du tuke toho lolon. Susa ure wai, pana dai hoje maje....”.
Sepenggal pesan ini terus dikisahkan dalam khasana sastra yang disebut “Koda Adat”. Dari generasi ke generasi  kisah ini ditenun kembali, dibacakan kembali. Tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari upaya memaknai  Warisan Budaya ini yang bernama  “ PATUNG WULU”.

Patung Wulu, Pengertian dan Gambaran Fisik
Patung Wulu adalah patung seorang Ibu yang  sedang menenun sambil menyusui bayinya. Berdasarkan literature dalam Lensa Flores Timur, patung ini terbuat dari perunggu seberat 5 Kg. Bagi masyarakat di Lereng Gunung Api Lewotobi, Wulu adalah Dewi Hujan. Berkaitan dengan keberadaan patung ini, belum ada studi yang mendalam dari segi Arkeologi. Beberapa warisan yang masih tersimpan dan cerita tentang kerajaan Lewotobi menunjukan adanya pengaruh Hindu.
Dalam tulisan ini, penulis tidak membahas dari aspek Arkelogi namun mencoba menelusuri tenunan-tenuan nilai-nilai warisan budaya ini sebagai sebuah refleksi  kehidupan bagi generasi mudah. Refleksi yang diangkat  menyakut  tiga poin  yakni : Menyusui, Menenun dan Lingkungan Alam.


Menyusui.
Sebuah ungkapan dalam bahasa sastra  Lewotobi (baca Bahasa Adat) “ tuho dura” menegaskan tentang pentingnya menyusui balita. Kata Tuho  secara  Kata Benda artinya payudara,  juga sebagai kata kerja menyusui. Dura pun berate sama yakni menyusui. Namun ada perbedaan yang mendasar dari kata Tuho dan Dura. Tuho artinya menyusui sedangkan Dura menyusui untuk mengobati. Saat si bayi sakit, si ibu mengolesi ramuan obat-obatan di sekitar puting susunya agar saat bayi menyusui sekalian bayi mengkonsumsikan obat-obatan tersebut.
Dari dua kata ini, Tuho Dura menegaskan bahwa nenek moyang orang Lewotobi telah menyadari pentinganya Air Susu Ibu (ASI) bagi pertumbuhan anak. Pentingnya memberikan ASI kepada bayi direfleksikan dalam patung ini, yakni  “kesibukan menenun sarung tidak menghalangi ibu memberikan ASI bagi bayinya”.  Potret Ibu menenun sarung sambil menyusui bayi menegaskan bahwa anak adalah prioritas dalam kehidupan, bahwa kebutuhan akan ASI merupakan kemutlakan. Dari cara berpakaian (memakai sarung) pun menujukan tentang kepraktisan pakaian seorang ibu yang menyusui. Ujung sarung diikat (disatukan) di kedua lengan dengan “snugi” (semacam peniti yang terbuat dari bambo atau kayu yang diraut dengan ukuran kecil). Jika bayinya menangis atau saat ibu mau menyusui bayinya, si ibu langsung mencabut  snugi dan satu ujung kain terlepas, payudara ibu langsung Nampak dan si bayi pun langsung menyusui. Ibu tidak susah-susah membuka BH, atau membuka baju kaos.
Kepraktisan ini menunjukan bahwa tindakan harus cepat diambil. Prioritas kebutuhan bayi akan ASI bukan hanya  terletak saat waktu ibu untuk menyusui  bayi tetapi juga bagaimana menciptakan, menyediakan ruang dan waktu yang baik, Proses sederhana “ Lepas Snugi langsung menyusui bayi” menegaskan “ tidak boleh ada halangan bagi bayi untuk mendapatkan ASI. Potret proses  menenun juga menegaskan bahwa pekerjaan tidak  boleh menghalangi seorang ibu memberikan ASI bagi bayinya.


Menenun Sarung.
Bagi masyarakat Lewotobi, seorang gadis dikatakan  telah dewasa dan siap menikah jika dia telah menguasai dan memiliki keterampilan menenun sarung. Keterampilan yang dimaksud adalah kemampuan untuk meramu keseluruhan proses sejak pemilihan kapas yang berkualitas, cara memintal menjadi benang, cara mencampurkan dengan zat pewarna lokal, membentuk motif, menenun serta menjahit kain tenun menjadi sarung.
Menenun sarung merupakan proses transformasi, membuat sesuatu yang ada menjadi bentuk lain dan bernilai. Proses transformasi dari keterpisahan benang  menjadi satu,proses dari satu warna menuju pengakuan  keragaman motif,  proses dari kesederhanaan  menjadi keangungan saat ia melekat dan menghisai tubuh yang mengenakannya.
Seorang ibu dipercayakan Tuhan untuk Karya Kehidupan. Dalam rahim seorang ibu, Sang Khalik menenun kehidupan, dalam rahim seorang wanita, Sang Cipta menggambarkan kehidupan, dalam Palungan Kasih Sang Pencerah mengawali Kisah yang terajut dari lembaran-lembaran benang. Dan ketika manusia (bayi)  menghirup nafas kehidupan,  Ibunya, wanita  yang membagikan isi cawan bersama bayi dalam kandungan siap memulai tugas baru, mendengarkan nyanyian alam, menunjukan dunia, mengajari kehidupan bagi anaknya.
Refleksi dari patung Wulu ini, Ibu yang menyusui bayi sambil menenun merupakan potret “ cara mendidik anak”. Saat ibu menenun, menyentakan alat tenun agar benang-benang menjadi satu dan kuat, serempak ada irama yang terus menerus bergaung seperti sebuah putaran lagu.  Sentakan irama ini membantu pertumbuhan otak bayi dalam gendongan ibunya. Para wanita Yahudi saat hamil mereka wajib mendengarkan musik-musik seperti lagu Bethoven. Para Ibu di Lewotobi tidak mengenal music ini tetapi kearifan lokal telah mengajari mereka tentang hal ini meskipun banyak yang tidak sadar. Selain itu melalui proses ini, si bayi sejak dini telah diajarkan, ditanamkan rasa cinta akan sarung, dibisikan tentang perannya ketika dewasa yakni menenun kehidupan, menyatukan benang-benang, mewarnai, memberikan bentuk  dan makna dalam kehidupannya.

Bersambung....

 Satu dari sekian Ritual Memohon  Air  Hujan




Patung Wulu dalam Gua
Sumber Foto : Fiddel Mudah

Bersambung........

Tuesday, 9 April 2013

Kumpulan Kata-Kata Mutiara




semoga suatu saat, 

di senja yang bergerimis, 

ada tamu di depan rumahmu, 

ia mencarimu

Uran Oncu, 09 April 2013

Kumpulan Kata-Kata Mutiara

sekeping jiwaku tertinggal, di berandamu aku kembali (Uran Oncu,09 April 2013)





Sunday, 7 April 2013

Cela di Balik Tirai


sibaklah tirai malam ini,
sisahkan sedikit celah,
intailah malam,
dekaplah rindumu,jangan berpikir
cukup diam rasakah,
bacalah sebait kata di cela tirai,
jangan kau tergesah menyibaknya
karna ia masih misteri,
biarkan ia melalui malam ini menantimu,
menyapa di saat mentari nyanyikan  syair pagi
saat tirai kau sibak, ada sepenggal puisi harapan…
ada pencil terletak di ujung hari
goreskan lembaran ini
letakan kembali di balik tirai malam
cukup sisahkan sedikit cela
dan seandainya matamu sanggup berjaga
misterinya ia singkap
di balik misteri rindu jiwamu
ia menantimu,
di sini
ia berjaga
membacakan puisi rindu ini
buatmu…….
uran oncu, 07 Maret 2013

Tuesday, 26 March 2013

Wajah Pendidikan Nasional- Revisi


Menggagas Pendikan Profesi
sebagai Pilihan Strategis dalam Menterjemahkan Muatan Lokal
(Studi Kasus pada Sekolah-Sekolah SD dan SMP Kecamatan Ilebura-Kabupaten Flores Timur NTT)


Pendahuluan

Sebuah adagium dalam bahasa latin “ Non Scholae Sed Vita Discimus” Kita belajar bukan untuk sekolah tapi untuk hidup” menginspirasi penulis di awal tulisan ini, sebagai sebuah refleksi atas potret dunia pendidikan Indonesia. Landasan-landasan yang dipaparkan dalam pembukaan Undang-Undang Pendidikan Nasional 2013  yakni Landasan  Yuridis, Filosofis dan Teoritis menegaskan tentang semangat perubahaan menuju Indonesia yang lebih baik, yang harus dimulai dari dunia pendidikan. Wacana perubahan kurikulum ini menjadi polemik yang hangat dibicarakan di media massa dan menjangkau ke pelosok-pelosok Indonesia di mana akses terhadap berita sangat susah diperoleh. Akibatnya perubahaan ini membuat para guru jadi bingung, gagap dalam mengkomunikasikan secara strategis dalam rencana pembelajaran di sekolah-sekolah.

Pengalaman waktu liburan Natal tahun 2012 membuat penulis merenungkan kembali makna dan hakekat pendidikan Nasional. Dalam perdiskusian dengan para guru di wilayah Kecamatan Ileburan Kabupaten Flores Timur-NTT para guru umumnya  belum memahami tentang konteks dan konsep muatan lokal. Berbekal pengalaman mendampingi kelompok wirausaha baik di kalangan remaja maupun orang dewasa serta kegiatan-kegiatan dalam Kreativitas Bermain Anak di Jakarta melalui Yayasana Wahana Visi Indonesia,  penulis mencoba membangikan pemahaman dan perdiskusian tentang konsep kewirausahaan sebagai media awal dalam menjawab serta menterjemahkan kurikulum 2013 yakni konsep  muatan lokal.




Pendidikan Berorientasi pada Profesi dan Fokus Nilai Budaya Lokal

Pengalaman penulis ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, setiap murid wajib mengelola kebun sekolah. Pengalaman ini sungguh membekas dan menginspirasi penulis bahwa pendidikan itu adalah proses mendekatkan peserta didik pada realita, pada kebudayaan lokal, belajar mencintai budaya lokal  dan bagaimana mengelola budaya tersebut sebagai modal sosial, ekonomi dan pendidikan.  Realita menunjukan bahwa pendidikan selama ini kurang menempatkan pendidikan nilai berbasis pada warisan budaya. Output dari pendidikan seharusnya  menjadikan manusia yang mampu berpikir mandiri, bebas, berpikir fokus dan berorentasi pada pengembangan sumber daya yang dimiliki. Ini harapan sebagaima terbaca dalam spirit perubahan Kurikulum 2013 ini. Namun realita menunjukan bahwa banyak generasi mudah lebih memilih menjadi perantau di Malasya dengan keterbatasan keterampilan.  Kasus seperti ini terus mendera masyarakat NTT yang selalu diidentik dengan kemiskinan. Pilihan merantau (red bekerja dengan minimnya keterampilan)  sepertinya menjadi pilihan pragmatis dan sesaat untuk menjawab kondisi kemiskinan ini.

Bagi penulis kemiskinan yang melanda NTT bukan karna semata kondisi geografis alam tetapi karna landasan pendidikan selama ini yang membuat warga NTT menjadi miskin dalam  pradigma pendidikan yakni pendidikan berorientasi pada Profesi dan Fokus Nilai. Pendidikan yang mengabaikan mereka dari rasa cinta akan warisan budaya, rasa cinta akan kekayaan alam.

 Bayak pakar berbicara dan mendefenisikan  konsep Profesi namun penulis merujuk pada konsep profesi menurut Daniel Bell (1973)  bahwa;
“Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat”[1]

Bagi penulis konsep ini sangat cocok diaplikasikan dalam penterjemahan  kurikulum Nasional  2013 tentang muatan lokal.  

Muatan Lokal yang Berkelanjutan

Sebagai sebuah aktivitas Intelektual, kurukulum muatan lokal harus dikemas secara berjenjang dan berkelanjutan. Artinya muatan lokal yang dipelajari atau yang menjadi pilihan peserta sejak Sekolah Dasar harus diterukan di bangku pendidikan Sekolah Menengah Pertama dan juga  sampai ke jenjang Sekolag Menengah Atas atau Kejuaruan. Rentang waktu  di setiap jenjang pendidikan merupakan proses pencaharian, pergumulan untuk menemukan rahasia-rahasia atas sebuah objek kajian. Aktivitas bukan sekedar implementasi program tetapi sebuah proses menuju kesadaran utuh dan holistik. Pemetaan yang penulis lakukan terhadap sumber daya dan warisan budaya yakni cara mengelola hidup di Kecamatan Ilebura menempatkan empat pilihan hidup yakni sebagai Petani, Nelayan, Peternak dan Penenun (tenun sarung). Empat cara hidup ini dalam pengamatan penulis dan juga hasil wawancara dengan para stakeholders[2] menunjukan bahwa warisan hidup ini semakin ditinggalkan. Kasus anak-anak gadis membeli sarung dari wilayah lain karna tidak bisa menenun lagi membuat miris jiwa setiap putra lewotana (daerah). Kasus anak-anak yang hanya tau (mau) konsumsi nasi dari beras padi merefeleksikan terjadinya pergeseran dan kemunduran nilai-nilai budaya lokal.  Kasus tanaman Sorgum yang merupakan warisan budaya dari leluhur telah dilupakan oleh masyarakat. Banyak anak muda tidak tahu lagi tentang sorgum. Banyak petani tidak menyimpan bibit sorgum ini. Kasus para sarjana di wilayah ini  umumnya  hanya berorientasi menjadi Pegawai Negeri Sipil menempatkan kemerdekaan cara berpikir sebagai agen  perubahan pada tataran nilai-nilai social, budaya, ekonomi, politik hanya sekedar wacana dan diskursus di masa-masa kuliah. Ini menegaskan bahwa generasi mudah tidak mampu berpikir out of the box,  karna situasi pendidikan, sosial dan ekonomi yang dihadapinya hanya menawarkan solusi pragmatis menjadi perantau atau berjuang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Melalui rancangan muatan lokal yang berkelanjutan dari setiap jenjang, anak-anak  memiliki kapasitas, modal ketika mereka memasuki usia produktif. Generasi mudah tidak akan menjadi gagap ketika tamat dari SMA atau tamat dari Perguruan Tinggi karna ia telah mempunyai bekal keterampilan dan juga karna sejak awal ia telah menentukan orientasi yang jelas. Kejelasan orientasi inilah mendorong orang untuk fokus dan setia menekunin pilihan profesinya.

Untuk itu pilihan strategis pengembangan muatan lokal  harus didesign sebagai sebuah proses pendidikan profesi  sejak  di Sekolah Dasar, berfokus pada penelitian, pengembangan sumber-sumber daya yang ada baik alam maupun sosial.  Sebagai sebuah proses penelitian dan pengembangan, maka pendekatan yang harus dilakukan didukung dengan perangkat teknologi tepat guna. Artinya dalam anggaran pendidikan yang dirancang oleh pihak Sekolah harus secara sengaja dibuat pos khusus untuk alokasi anggaran ini dan mekanisme pengelolaan harus dikelola secara kemitraan, serta value chained.

Strategi Kemitraan

Konsep Kemitraan berarti pengembangan muatan lokal tidak dikerjakan sendirian oleh pihak sekolah tetapi harus melibatkan semua pihak yakni masyarakat di sekitarnya, para orang tua serta lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Kearifan lokal yakni adanya kebun sekolah di wilayah Lewotobi bagi SMPK Ilebura  merupakan asset dan pintu masuk untuk proses belajar siswa menjadi orang yang pakar di bidang pertanian. Dengan demikian pekerjaan sebagai petani dapat dikategorikan sebgai Profesi Petani, juga ketiga mata pencaharian lainnya. Sedangkan konsep Value Chained adalah membangun rantai nilai.

 Satu dari sekian konsep  kerja yang ditawarkan penulis ke para guru SD dan SMPK Ileburan yakni menghasilkan Sarung yang berkualitas. Prosesnya sebagai berikut;  Desa Nurabelen di Kecamatan Ilebura, lahanya sangat cocok untuk menanam kapas dan hasil kapasnya lebih berkualitas jika dibandingkan dengan wilayah lain. Konsep Value Chained  di sini artinya, para peserta didik (SDK Nurabelen) mengambil porsi dan fokus pada proses pembibitan, penanaman serta pemeliharan kapas sehingga menghasilkan kapas yang berkualitas yang lain. Untuk proses pemintalan menjadi benang dikelola oleh SDK Riangkaha, SDK Lewouran untuk  proses pencampuran benang dengan  zat dari bahan lokal, SDK Lewotobi mengambil peran pembuatan motif dan SDK Buranilan serta Riang Baring pada proses menenun.  Dan untuk SMPK Ilebura mengambil peran pada proses mengelola sarung tenun ini menjadi aneka bentuk seperti  Jas, Tas, sarung HP, dan aneka bentuk lainnya.[3]

Setiap proses yang dijalani  harus  manage sebagai proses kreativiatas, Improvisasi dan Inovasi. Dan keseluruhan proses harus dibingkai dalam  terang nilai Etika dan Moral. Artinya uji coba dan pengembangan yang terus menerus semakin menyadarkan peserta akan tuntutan dan panggilan nurani serta pilihan profesi yang akan dia jalani. Kalau mau menjadi petani jagung yang baik, maka ada standard kualitas produk yang harus dijaga, ada standard etika yang dijunjung tinggi. Selain itu  Setiap peserta yang terlibat dalam proses ini baik secara pribadi atau kelompok wajib menghasilkan sebuah tulisan Ilmiah atas hasil temuan mereka dan dipublikasikan melalui mimbar Gereja, Mading Sekolah dan Surat Kabar Lokal juga Nasional.

Dengan mengelola mutan lokal (Mulok) sebagai sebuah pilihan strategis, sisitimatis  para peserta didik akan menjadi manusia yang mandiri dalam cara berpikir, manusia yang terus menerus mencari bentuk terbaik dalam melayani dengan mempersembahkan temuan-temuan baru yang berbasis pada warisan budaya.  Melalui rancangan pendidikan profesi, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang telah memiliki impian yang jelas, bukan impian abstrak dan mereka tau cara dan jalan menuju impian ini.

Selamat merenung dan mari kita lakukan sesuatu untuk menyelamatkan dunia pendidikan kita

Jakarta, 23 Maret 2013
 Fabianus Boli Uran,
Pengamat Sosial, Budaya dan Pendidikan Saat ini sedang kuliah dan bekerja di Jakarta.



[2] Hasil Observasi selama tahun 2000- 2005 sebelum penulis ke Jakarta untuk melanjutkan studi serta pengamatan dan diskusi dengan para stakeholders selama Desember 2012- Januari 2013 waktu liburan di Kampung. Berkaitan dengan sorgum dapat dibaca di http://www.tempo.co/read/news/2012/11/12/090441238/Profesor-Sorgum-Menangis-di-Depan-Dahlan-Iskan,
http://sains.kompas.com/read/2011/12/13/03434068/Pemburu.Benih.Sorgum.Flores?. Tentang Sorgum, waktu Liburan penulis melakukan sosialisasi tentang Sorgum dan banyak petani terkejut. Namun persoalan adalah bagaimana mengelola sorgum ini menjadi tepung beras. Hasil pemetaan di Lewotobi, Ibu kota Kecamatan Ilebura,  hanya emapt  keluarga yang masih menyimpan dan menanam sorgum ini termasuk di keluarga penulis.

[3] Diskusi tentang kewirausahaan dengan para guru SD se kecamatan Ilebura dan SMPK Ilebura, Lewotobi, 07 Januari 2013.

Wajah Pendidikan Nasional


Permainan Tradisional Bisa Jadi Media Pembelajaran
Rabu, 27 Maret 2013 | 06:53 WIB
 Dibaca: 1 Komentar: -
| Share:

ancient-wisdom-blog.blogspot.com
Dua perempuan sedang bemain dakon
YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Mainan tradisional sepatutnya dilestarikan, karena bisa menjadi media pembelajaran bagi anak-anak, kata peneliti dari Institut Seni Indonesia Surakarta Bagus Indrayana.

"Melalui permainan tradisional itu akan membangun kesadaran kolektif dalam bersosialiasi dengan anak-anak lainnya. Selain itu juga dapat menjadi media pembelajaran dalam penanaman sikap dan perilaku dalam kebersamaan," katanya di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia saat memaparkan hasil penelitiannya di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), mainan tradisional memiliki fungsi sosial dan budaya terkait dengan perkembangan anak menuju pemilikan pengetahuan dan keterampilan baik individu maupun kolektif.

"Perilaku kolektif terlihat pada kegiatan bermain di mana anak-anak saling berkomunikasi, bercanda, dan bermain dengan benda mainannya, seperti dhakon, gasingan, dan wayang umbul," katanya.

Ia mengatakan, mainan tradisional memiliki peranan signifikan dalam menumbuhkan kebebasan berkreasi, keleluasaan menetapkan pilihan material, bentuk, teknik, dan aturan bermain secara mandiri.

Proses pembuatan mainan tradisional menjadi ajang transformasi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan orang tua kepada anak-anak.

"Proses tersebut mendorong anak-anak untuk menciptakan mainan sendiri sekaligus mengembangkan imajinasi, daya kreasi, dan keterampilan mereka," katanya.

Menurut dia, keberagaman mainan tradisional diciptakan tidak hanya sebagai sarana bermain semata. Selain itu mainan tradisional diciptakan dengan mengejawantahkan nilai filosofi dan keindahan fungsional yang sangat kompleks.

"Kompleksitas tersebut berkaitan dengan pandangan, perilaku, dan aktivitas hidup masyarakat penggunanya," katanya.

Misalnya, dalam mainan dhakon, yang dibuat dari batu berkaitan dengan upacara ritual yang di dalamnya mengandung nilai rohani, makna sosial, dan ungkapan estetika masyarakat.

Permainan dhakon merupakan gambaran perilaku petani sejak mereka melakukan kegiatan menanam benih di sawah hingga memanen dan menyimpan hasilnya dalam lumbung penyimpanan.

"Hal itu mencerminkan kehidupan masyarakat Yogyakarta di luar keraton yang menyandarkan hidupnya dari hasil pengolahan sawah dan ladang," katanya.

Ia mengatakan, mainan tradisional perlu diteruskan kepada generasi muda untuk menjaga eksistensi di tengah maraknya beraneka macam mainan modern saat ini.

Salah satunya bisa dilakukan dengan mengadakan festival mainan tradisional. Melalui kegiatan itu diharapkan generasi muda dapat menghayati dan memahami kompleks nilai di dalamya.

"Pewarisan juga bisa dilakukan melalui pendidikan formal maupun nonformal, misalnya dengan membentuk komunitas peduli mainan tradisional," katanya.


Sumber : Kompas Online, 27 Maret 2013

Wajah Pendidikan Nasional

http://oase.kompas.com/read/2013/03/27/06534914/Permainan.Tradisional.Bisa.Jadi.Media.Pembelajaran?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Sahabat, Ini Aku


aku menantimu pagi ini
merindukanmu, kutepis kabut malam, kusibak mimpi
agara ada waktu
cukup sejenak buat  gita syairmu
kusibak waktu untukmu
mendendangkan melodi
cukup aku mendengar suaramu
lantunan kisah musim panas berpagut
di beranda musim semi
untukmu sahabat
aku ada untukmu
kudengar tangismu
ini sapu tangan bersulang mawar
ini waktu meteraikan kisah
adamu
adaku
untuk berbagi
jangan ragu engkau menyapa
ini waktu sematkan rindu
Buat Sahabat Berinisial R
…………….
Uran Oncu, 27 Maret 2013

Saturday, 23 March 2013

MENJAWAB KURIKULUM 2013


Menggagas Pendikan Profesi
sebagai Pilihan Strategis dalam Menterjemahkan Muatan Lokal
(Studi Kasus pada Sekolah-Sekolah SD dan SMP Kecamatan Ilebura-Kabupaten Flores Timur NTT)

Pendahuluan

Sebuah adagium dalam bahasa latin “Non Scholae Sed Vita Discimus” Kita belajar bukan untuk sekolah tapi untuk hidup” menginspirasi penulis di awal tulisan ini, sebagai sebuah refleksi atas potret dunia pendidikan Indonesia. Landasan-landasan yang dipaparkan dalam pembukaan Undang-Undang Pendidikan Nasional 2013  yakni Landasan  Yuridis, Filosofis dan Teoritis menegaskan tentang semangat perubahaan menuju Indonesia yang lebih baik, yang harus dimulai dari dunia pendidikan. Wacana perubahan kurikulum ini menjadi polemik yang hangat dibicarakan di media massa dan menjangkau ke pelosok-pelosok Indonesia di mana akses terhadap berita sangat susah diperoleh. Akibatnya perubahaan ini membuat para guru jadi bingung, gagap dalam mengkomunikasikan secara strategis dalam rencana pembelajaran di sekolah-sekolah.

Pengalaman waktu liburan Natal tahun 2012 membuat penulis merenungkan kembali makna dan hakekat pendidikan Nasional. Dalam perdiskusian dengan para guru di wilayah Kecamatan Ileburan Kabupaten Flores Timur-NTT para guru umumnya  belum memahami tentang konteks dan konsep muatan lokal. Berbekal pengalaman mendampingi kelompok wirausaha baik di kalangan remaja maupun orang dewasa serta kegiatan-kegiatan dalam Kreativitas Bermain Anak di Jakarta melalui Yayasana Wahana Visi Indonesia,  penulis mencoba membangikan pemahaman dan perdiskusian tentang konsep kewirausahaan sebagai media awal dalam menjawab serta menterjemahkan kurikulum 2013 yakni konsep  muatan lokal.

Pendidikan Berorientasi pada Profesi dan Fokus Nilai Budaya Lokal

Pengalaman penulis ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, setiap murid wajib mengelola kebun sekolah. Pengalaman ini sungguh membekas dan menginspirasi penulis bahwa pendidikan itu adalah proses mendekatkan peserta didik pada realita, pada kebudayaan lokal, belajar mencintai budaya lokal  dan bagaimana mengelola budaya tersebut sebagai modal sosial, ekonomi dan pendidikan.  Realita menunjukan bahwa pendidikan selama ini kurang menempatkan pendidikan nilai berbasis pada warisan budaya. Output dari pendidikan seharusnya  menjadikan manusia yang mampu berpikir mandiri, bebas, berpikir fokus dan berorentasi pada pengembangan sumber daya yang dimiliki. Ini harapan sebagaima terbaca dalam spirit perubahan Kurikulum 2013 ini. Namun realita menunjukan bahwa banyak generasi mudah lebih memilih menjadi perantau di Malasya dengan keterbatasan keterampilan.  Kasus seperti ini terus mendera masyarakat NTT yang selalu diidentik dengan kemiskinan. Pilihan merantau (red bekerja dengan minimnya keterampilan)  sepertinya menjadi pilihan pragmatis dan sesaat untuk menjawab kondisi kemiskinan ini.

Bagi penulis kemiskinan yang melanda NTT bukan karna semata kondisi geografis alam tetapi karna landasan pendikan selama ini yang membuat warga NTT menjadi miskin dalam  pradigama pendidikan yakni pendidikan berorientasi pada Profesi dan Fokus Nilai. Pendidikan yang mengabaikan mereka dari rasa cinta akan warisan budaya, rasa cinta akan kekayaan alam.

 Bayak pakar bebicara dan mendefenisikan  konsep Profesi namun penulis merujuk pada konsep profesi menurut Daniel Bell (1973)  bahwa;
“Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat”[1]

Bagi penulis konsep ini sangat cocok diaplikasikan dalam penterjemahan  kurikulum Nasional tentang muatan lokal. Pemetaan yang penulis lakukan terhadap Sumber Daya dan Warisan Budaya yakni cara mengelola hidup di Kecamatan Ilebura menempatkan empat pilihan hidup yakni sebagai Petani, Nelayan, Peternak dan Penenun (tenun sarung). Empat cara hidup ini dalam pengamatan penulis dan juga hasil wawancara dengan para stakeholders[2] menunjukkan bahwa warisan hidup ini semakin ditinggalkan. Kasus anak-anak gadis membeli sarung dari wilayah lain karna tidak bisa menenun lagi membuat miris jiwa setiap putra lewotana (daerah). Kasus anak-anak yang hanya tau (mau) konsumsi nasi dari beras padi merefeleksikan terjadinya pergeseran dan kemunduran nilai-nilai budaya lokal.  Kasus tanaman Sorgum yang merupakan warisan budaya dari leluhur telah dilupakan oleh masyarakat. Banyak anak muda tidak tahu lagi tentang sorgum. Banyak petani tidak menyimpan bibit sorgum ini. Kasus para sarjana yang hanya berorientasi menjadi Pegawai Negeri Sipil menempatkan kemerdekaan cara berpikir sebagai agen  perubahan pada tataran nilai-nilai social, budaya, ekonomi, politik hanya sekedar wacana dan diskursus di masa-masa kuliah.

Untuk itu pilihan strategis pengembangan muatan lokal  harus didesign sebagai sebuah proses pendidikan profesi  sejak  di Sekolah Dasar yang berfokus pada penelitian, pengembangan sumber-sumber daya yang ada baik alam maupun sosial.  Sebagai sebuah proses penelitian dan pengembangan, maka pendekatan yang harus dilakukan didukung dengan perangkat teknologi tepat guna. Artinya dalam anggaran pendidikan yang disampaikan oleh pihak Sekolah harus secara sengaja dibuat pos khusus untuk alokasi anggaran ini dan mekanisme pengelolaan harus dikelola secara kemitraan, serta value chained.

Konsep Kemitraan berarti pengembangan muatan lokal tidak dikerjakan sendirian oleh pihak sekolah tetapi harus melibatkan semua pihak yakni masyarakat di sekitarnya, para orang tua serta lembaga-lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Kearifan lokal yakni adanya kebun sekolah di wilayah Lewotobi bagi SMPK Ilebura  merupakan asset dan pintu masuk untuk proses belajar siswa menjadi orang yang pakar di bidang pertanian. Dengan demikian pekerjaan sebagai petani dapat dikategorikan sebgai Profesi Petani, juga ketiga mata pencaharian lainnya. Sedangkan konsep Value Chained adalah membangun rantai nilai.

 Satu dari sekian konsep  kerja yang ditawarkan penulis ke para guru SD dan SMPK Ileburan yakni menghasilkan Sarung yang berkualitas. Prosesnya sebagai berikut;  Desa Nurabelen di Kecamatan Ilebura, lahanya sangat cocok untuk menanam kapas dan hasil kapasnya lebih berkualitas jika dibandingkan dengan wilayah lain. Konsep Value Chained  di sini artinya, para peserta didik (SDK Nurabelen) mengambil porsi dan fokus pada proses pembibitan, penanaman serta pemeliharan kapas sehingga menghasilkan kapas yang berkualitas yang lain. Untuk proses pemintalan menjadi benang dikelola oleh SDK Riangkaha, SDK Lewouran untuk  proses pencampuran benang dengan  zat dari bahan lokal, SDK Lewotobi mengambil peran pembuatan motif dan SDK Buranilan serta Riang Baring pada proses menenun.  Dan untuk SMPK Ilebura mengambil peran pada proses mengelola sarung tenun ini menjadi aneka bentuk seperti  Jas, Tas, sarung HP, dan aneka bentuk lainnya.[3]

Setiap proses yang dijalani  harus  manage sebagai proses kreativiatas, Improvisasi dan Inovasi. Dan keseluruhan proses harus dibingkai dalam  terang nilai Etika dan Moral. Artinya uji coba dan pengembangan yang terus menerus semakin menyadarkan peserta akan tuntutan dan panggilan nurani serta pilihan profesi yang akan dia jalani. Kalau mau menjadi petani jagung yang baik, maka ada standard kualitas produk yang harus dijaga, ada standard etika yang dijunjung tinggi. Selain itu  Setiap peserta yang terlibat dalam proses ini baik secara pribadi atau kelompok wajib menghasilkan sebuah tulisan Ilmiah atas hasil temuan mereka dan dipublikasikan melalui mimbar Gereja, Mading Sekolah dan Surat Kabar Lokal juga Nasional.

Dengan mengelola mutan lokal (Mulok) sebagai sebuah pilihan strategis, sisitimatis  para peserta didik akan menjadi manusia yang mandiri dalam cara berpikir, manusia yang terus menerus mencari bentuk terbaik dalam melayani dengan mempersembahkan temuan-temuan baru yang berbasis pada warisan budaya.  Melalui rancangan pendidikan profesi, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang telah memiliki impian yang jelas, bukan impian abstrak dan mereka tau cara dan jalan menuju impian ini.

Selamat merenung dan mari kita lakukan sesuatu untuk menyelamatkan dunia pendidikan kita.


Uran, 23 Maret 2013
Pengamat Sosial, Budaya dan PendidikanSaat ini sedang kuliah dan bekerja di Jakarta


[2] Hasil Observasi selama tahun 2000- 2005 sebelum penulis ke Jakarta untuk melanjutkan studi serta pengamatan dan diskusi dengan para stakeholders selama Desember 2012- Januari 2013 waktu liburan di Kampung. Berkaitan dengan sorgum dapat dibaca di http://www.tempo.co/read/news/2012/11/12/090441238/Profesor-Sorgum-Menangis-di-Depan-Dahlan-Iskan,
http://sains.kompas.com/read/2011/12/13/03434068/Pemburu.Benih.Sorgum.Flores?. Tentang Sorgum, waktu Liburan penulis melakukan sosialisasi tentang Sorgum dan banyak petani terkejut. Namun persoalan adalah bagaimana mengelola sorgum ini menjadi tepung beras. Hasil pemetaan di Lewotobi, Ibu kota Kecamatan Ilebura,  hanya emapt  keluarga yang masih menyimpan dan menanam sorgum ini termasuk di keluarga penulis.

[3] Diskusi tentang kewirausahaan dengan para guru SD se kecamatan Ilebura dan SMPK Ilebura, Lewotobi, 07 Januari 2013.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...