Saturday, 8 June 2013

Parse HTML


© Suriyadi.blogspot.com | Get This Widget

‘PEJABAT YANG PECUDANG ..sambungan dari artikel PECUDANG

Kasus pemukulan Pramugari Sriwijaya Air oleh si pelayan negara yang dibayar oleh rakyat termasuk Pramugari melalui pajak, yang katanya pelayan negara ini disebut dengan PNS atau Birokrat (maaf  belum ada titik), memperlihatkan Budaya Preman di kalangan Pejabat yang katanya-katanya Pejabat Publik yang katanya-katanya Pelayan Rakyat, yang katanya-katanya memahami hukum……
wahhhh capek juga kalau terus mendengar “katanya-katanya” mendingan plokkkkkk, seperti si Pejabat sok Ahlim dan berkusa ini memplokkk si Pramugari…
Plokkk yang pertama:

Pemda Lembata Tolak Konservasi Ikan Paus - Pos Kupang

Pemda Lembata Tolak Konservasi Ikan Paus - Pos Kupang

PECUDANG

Ketika pecudang mengunjungi berandamu
ia tidak punya kata yang tepat membingkai pertanyaan dari pertanyaan
jawaban lahir dari kegagapannya
pecudang hanyalah pecudang
tidak tau jawaban
yang ada hanya menertawakan kekonyolan dirinya
bersembunyi di balik kata orang lain
pikirnya ia benar
tapi
ia tidak sadar
bahwa
Ia sedang Mabuk....

read more

Kenny Rogers & Anne Murray - If I Ever Fall in Love Again

Friday, 7 June 2013

DUA SISI KEHIDUPAN


     DARI SEPENGGAL CATATAN HARIAN ANAK PETANI



Sumber Foto:Flexmedia



Sepanjang malam ia menatap hamparan ladang
bak permadani dibingkai bulir-bulir padi diam tertunduk. 
Berderet tanaman jangung terurai rambut 
dari ujungnya, bergemericik di sapa angin gunung. 
Sesekali terdengar gongongan anjing 
di ujung bukit menyapa lembah,
dan tarian burung malam teruskan pesan. 
Sesekali ia menarik pelan, sedalam rindunya,
 hela napas perjuangan. Kepulan asap rokok dari daun lontar
 temaninya mengusir sepih,
 asap putih terobosi remang cahaya malam.

aku tidak tau kapan ia bangun dari tidurnya, 
juga tidak tau kapan ia letakan tubuh tuanya 
di atas papan tua warisan sekian generasi.
 Sesekali ia dendangkan lagu lama, kata ibuku,
 itu lagu yang dulu sering ia nyanyikan agar aku cepat terelelap dalam mimpi. 


aku terjaga saat tangan tuanya goncangkan kesadaranku, 
pisahkan tubuhku dari mimpi, 
bahwa hidup harus dimulai. 
Ufuk timur masih gelap gulita, 
belum ada tanda-tanda mentari bersiul di pucuk embun.
 angin darat terus bertiup
 kembangkan perahu nelayan,
 melepas jangkar menakar waktu sejauh ia berlayar. 
Kami bergegas menyusuri petak. 
tertatih berjalan di remang rembulan, 
kuikuti bayangannya hildang di telan gelap pepohonan. 
namun tidak butuh waktu lama karna ia cepat sadar menantiku, 
menuntun aku.


*************

aroma laut tercium, 
suara gemuruh pantai selatan gelorakan jiwa.
 Kukayu dayung pada hitungan waktu saat gelombang menepih.

sejauh angin darat kembangkan layar,
 biduk kami terombak di kesunyian pagi.
 Kemilauan garis waktu di pelataran laut tuntun tanganya, 
mengulur lepas tali pancing.
 Menanti diam. 
tidak lama pancing tersambar, 
dengan cekat tanganya bergerak
 merengkuh berkah dari Tuhan. Satu, dua, tiga dan seterusnya...

kami pulang membawa ikan...
tak lupa ia pisahkan ikan yang sedang mengandung telur
usap pelan sebelum melapas kembali...

tanyaku, kenapa ayah dilepas kembali

ya agar hidup itu tidak punah,
hidup itu harus dijaga...

*********
saat gadis desa menyibak embun menuju sumur
kupapas di serambi mimpi terisah di malam tadi
ia terpanah 

tubuh kecilku terseok memanggul
sembari kusiul rindu mengoda 

kami berpisah di lorong berbatu
kuayun langkah menuju ladang
ia bergegas menuju sumur

*********************

hari masih pagi...
hamparan ladang menanti...
sembari kunikmati ikan bakar
bersama ayah dan ibu

kugoreskan sepenggal puisi di sudut gubuk
tentang senyum indahnya

tak lupa kunikmati hidup ini
sebagai petani 
sebagi nelayan
dua sisi kehidupan
bergelora dalam jiwaku.


Panorama di Pantai Selatan Lewotobi, Ilebura Flores-NTT


Uran Oncu

Anak petani bermimpi besar

Thursday, 6 June 2013

Basuki TP (Ahok) RDP Komisi II DPR RI

Wednesday, 5 June 2013

PENDIDIKAN NTT, ABAIKAN KURIKULUM NASIONAL KUATKAN MUATAN LOKAL

Harian Kompas menurunkan berita yang sangat menyentak nuraniku  dengan judul "

Di NTT, 1.992 Siswa Tidak Lulus UN (Kompas, 02 Juni 2013).


dan hari ini aku mendapat sebuah artikel berjudul "Asnat Bell, guru Honorer NTT, 10 Tahun mengabdi , hanya bergaji 50 ribu/bulan".

Dua artikel ini mewakili sekian artikel yang menyuarahkan tentang keprihatinan atas wajah pendidikan khususnya di Wilayah NTT. Stigma NTT yang miskin menegaskan bahwa dunia pendidikan pun "miskin". Memahami realita ini saya mencoba mengulasnya dalam dua sudut padang sebagai orang NTT.

NTT BUKAN MISKIN

NTT, bumi Flobamora menyediakan potensi yang sangat beragam, namun warga NTT masih gagap dalam mengelola dan menyajikannya sebagai sebuah modal untuk pembangunan. Kegagapan ini karna minimnya pengalaman dan pendidikan yang berorientasi pada pengenalan tentang Budaya Nasional, budaya daerah lain sedangkan budaya di kampung sendiri terlupakan.

Tahun 80-an saat penulis masih di bangku SD dan SMP, para siswa baik SD maupun SMP diwajibkan menghafal tentang budaya-budaya di luar NTT, menghafal tentang Susunan Kabinet, menghafal tentang butir -butir Pancasila, menghafal peta buta, di mana letak penambangan batubara. Dan hasil hafalan ini dilombakan setiap tahun melalui lomba mata pelajaran antar SD sampai tingkat Kabupaten.

Usia SD saat itu, penulis dan sekian banyak putra-putri NTT tidak terlalu memahami tentang dampak dari model pendidikan seperti ini. Satu hal yang sangat lucu, anak-anak NTT disuruh menghafal tentang budaya Jawa, Sumatera, mengenal wilayah lain di luar NTT sedangkan warga Sumatera, Jawa tidak tahu di mana letak NTT. Ada yang bertanya, NTT itu dekat Papua, atau di mana. dan saya jawab NTT itu dekat dengan Australia. Di lain kesempatan saya jawab NTT itu dekat surga. (dari pada beri jawabn yang benar lebih baik buat mereka penasaran, heheheheh)

Terlepas dari muatan kurikulum saat itu, penulis sangat bersyukur karna para pendidik di SD dan SMP terus menekankan tentang pentingnya para siswa mencintai pekerjaan (saya lebih suka disebut Profesi) sebagai Petani, Nelayan atau peternak. Ini design dengan jelas dalam kegiatan ekstrakurikuler di mana setiap SD dan SMP memiliki kebun sekolah. Melalui kegiatan bercocok tanam, menangkap ikan, beternak, kami dibekali tentang makna hidup yakni " Bekerja".

Design kegiatan ekstrakurikuler yang diterjemahkan oleh SD, SMP di NTT bagi penulis merupakan sarana yang sangat efektif dalam menumbuhkan semangat mencintai  warisan budaya. Namun design kegiatan ekstrakurikuler ini (saat ini disebut muatan lokal) belum dirancang secara sistimatis, terintegrasi, berkolaborasi dengan pihak-pihak lain apalagi sampai pada tahapan penerapan teknologi tepat guna.

Para pendidik di NTT bagi penulis menyadari akan kekurangan dari muatan kurikulum  yang tidak berpihak pada potensi lokal. Akibatnya, proses pengajaran di sekolah hanya menekankan untuk mendapatkan nilai yang baik dan lulus ujian akhir. Para pendidik tidak memiliki daya tawar yang kuat untuk menyuarahkan ketimpangan ini karna keterbatasan akses informasi dan transportasi. Yang hanya bisa mereka lakukan adalah mengajar dalam Totalitas, sungguh-sungguh mengajar sebagaiman peran yang dimainkan oleh Ibu Asnat Bell.

Totalitas pemberian diri dalam pengabdian bukan merupakan  wajah kemiskinan tetapi ini menegaskan tentang "Kekayaan Spiritual Kemanusiaan NTT". Pertanyaan, apakah berhenti hanya pada pengakuan ini?.

Bagi penulis, wajah pendidikan NTT yang dibiarkan terus terkebelakang sepertinya didesign dengan sengaja agar NTT tetap tinggal dalam bingkai Kemiskinan. Sehingga muncul istilah, NTT, Nanti Tuhan Tolong, atau Nasib Tidak Tentu atau...masih banyak. Meskipun "sengaja dibairkan seperti ini, Warga NTT tidak tinggal diam, mereka terus bergerak dan berjuang, dari keterbatasan mereka hadir memberikan diri dalam totalitas bagi Nusantara. Ada tokoh  yang menegaskan hal ini, yakni Frans Seda, Ben Boy, Sony Keraf dan masih banyak tokoh 

NTT MENJADI MISKIN KARNA PEMERINTAH YANG KORUP.

Kesadaran tentang pentinganya Pendidikan seharusnya menjadi Roh yang selalu menggerakan semua pihak khususnya pemerintah NTT. Namun kesadaran akan perubahaan tidak bisa berjalan efektif dan bersifat Transformatif jika jiwa para pemerintah telah dikuasai oleh sikap koruptif, nepotisme dan sukuisme. 
keterpasungan jiwa koruptif di kalangan birokarat, menyebabkan peyelenggaraan dunia pendidikan NTT tidak menyentuh pada substansi pendidikan tetapi sebatas pada upaya mengejar tingkat lulusan. 
Jika Roh pendidikan yang bertransformatif sungguh kuat dalam pemahaman pemerintah NTT maka akan lahir banyak terbosan-terobosan dalam dunia pendidikan yang lebih menekankan dan berorientasi pada budaya lokal agar pendidikan tidak tercabu dari warisab budaya.

Informasi tentang para guru Honorer tidak mungkin tidak didengar oleh pihak pemerintah. Catatan penulis menunjukan bahwa banyak tenaga honorer hanya menjadi ajang untuk merebut suara waktu pemilu. Seandainya pihak pemerintah menyadari pentinganya peran para guru Honorer maka upaya yang bisa dilakukan adalah :

1. Untuk para guru Honores difasilitasi untuk melanjutkanKuliah Terbuka agar Guru memiliki kompetensi dasar dan inti

2. Guru-guru dibekali kursus keterampilan yang lebih berfokus dan berorientasi pada pengembangan potensi lokal

3. Mendorong warga melalu komite sekolah atau Gereja agar menggalang dana  bagi para guru Honerer melalui sumbangan padi, jangung, umbi-umbian, Bagi penulis praktek no 3 ini selalu dilakukan oleh warga di wilayah penulis. dan ini merupakan kearifan lokal yang harus terus dikembangkan agar memiliki managemen yang lebih baik.

PENDIDIKAN NTT, UNTUK HIDUP ATAU UNTUK NILAI UJIAN ?

NTT dengan stigma propinsi termiskin dan terkorup harus berani melakukan terobosan. Wajah pendidikan NTT harus secepatnya dibenahi. Harus ada gerakan " Revolusioner" mulai dari beberapa sekolah target atau komunitas dan HARUS DIDUKUNG OLEH PEMERINTAH YAKNI, SEKOLAH PROFESI BERORENTASI PADA PENGEMBANGAN POTENSI LOKAL. Gerakan Revolusioner artinya, abaikan Kurikulum Nasional, kuatkan Muatan Lokal. Hasil dari tamatan Sekolah adalah tenaga yang siap pakai untuk membangun NTT bukan menjadi Sarjana dengan sekian argumen dangkal, sarjana yang hanya menungguh masa test PNS dan akhirnya Sarjana yang akan mewarisi semangat korupsi berjemaat.

Perubahan wajah pendidikan NTT hanya menanti wejangan dari pemerintah pusat melalui UU sama halnya terus memelihara kemiskinan. Dengan keterbatasan tekonologi dan informasi, siswa NTT tidak dapat disanding dengan Siswa dari Sekolah unggulan di Jakarta dalam hal penerapan teknologi tetapi dari segi kualitas Siswa sebagai  Calon Pemikir, NTT merupakan ladangnya. Tapi ladang itu saat ini tidak digarap dengan baik, ladang itu dibiarkan tertutup oleh orientasi  merantau, orientasi pengagungan budaya Jawa, orientasi pada PNS.

Sudah waktunya, "abaikan kurikulum Nasional" dan kuatkan mutan Lokal. Hanya melalu cara radikal ini NTT akan cepat maju.

Non Scholae sed Vita Discimus... Kita Belajar bukan untuk Sekolah tapi untuk Hidup

Salam,

ruang kesunyian cakrawala  pencerahan, 05 Juni 2013


Maju Flobamoraku tercinta.

uRan oNcu

Sumber :








Tuesday, 4 June 2013

NONA MASIH KECIL JANGAN CEPAT NIKAH

Paduan Suara Anak-anak SDK Lewotobi waktu misa


Rasa Rindu kampung halaman mendorong aku mendengarkan lagu-lagu Flores Timur di You Tube (maklum belum sempat beli kaset lagu). Cari yang originil tidak dapat, yang ada hanya bajakan semua. Jadi lebih baik dengar di You Tube. 

 Ketika mengetik lagu-lagu Flores Timur, muncul judul lagu "Nona Masih Kecil". Judul lagu ini sungguh menginspirasi aku karna berisi pesan moral, jangan cepat nikah karna nona masih kecil. 

Dalam irama dolo-dolo, pesan ini dikemas menarik dengan sentakan musik dan gerakan tarian yang dinamis. ketika pesan lagu ini disanding dengan realita, ada sekian kenyataan yang menunjukan betapa martabat anak perempuan direndahkan. Banyak kasus, pernikahan dini, anak dipaksa nikah demi ekonomi, anak dipaksa nikah demi sebuah relasi kekerabatan....anak masih kecil, harus bermain dipaksa hidup dalam "Keranda Kematian". 

 Nona masih kecil jangan cepat nikah, bukan sekedar syair lagu, bukan sekedar irama yang menyentak tapi dalam irama dinamis Dolo-dolo, kita dipanggil untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia, anak-anak di desa, di kota agar mereka memiliki masa depan yang lebih indah...

 Mari kita berdolo-dolo demi sebuah perjuangan nilai-nilai kemanusiaan karna dengan menghadirkan dunia yang ramah bagi anak-anak kita telah meyibak tirai, penghalang bagi anak-anak untuk bertemu Dia Sang Kasih. 



irama musik ini dapat dibuka di link ini :







 Salam



Uran Oncu


Monday, 3 June 2013

MENEPIS BAYANGANMU

aku merindukan dirimu dalam diam sendirian kulukisan harapan ini di waktu pagi kudekap erat di waktu sore tapi hanya bayangan aku sadar........ hidup bukanlah bayangan Hidup ada untuk kisah baru kisah kita telah lama hadir dalam kekiniannya untuk sebuah azah tak pernah pudar rindu terus menyala bak cahaya di gubuk tua di bukit batu aku menulikan kisah ini untukmu yang selalu kurindukan

Kenny Rogers - The Gambler (with lyrics)

Sunday, 2 June 2013

SBY DAN PENGINGKARAN PANCASILA

Di bawah rindangan daun pohon sukun, di hadapan hamparan alam, laut tenang membentak luas, cakrawala menyibak tirainya, biarkan kecerahan menyapa Sang Pemikir, merenung dalam kekinian dirinya. Ia bersatu dalam alam, mendergarkan Gita Cinta Persada membisikan setiap kata. Ia terus datang, duduk dan merenung. Jiwanya tergoncang karna satu kata ” Cinta” buat Ibu Pertiwi. Cinta yang memampukan ia mendegarkan suara Nuarani bangsa ini, Cinta yang memampukan ia melepaskan diri untuk memberi dirinya, Total demi bumi Persada ini. Ia Soekarno hari ini diperingati dalam bingkai Lahirnya Pancasila Pancasila, dasar Negara ini gaungnya seperti hilang tertelan di tengah hiruk pikuk kepentingan sektarian, golongan, agama, partai. Para pemimpin bangsa, pemimpin parati, tokoh-tokoh golongan mengajarakan rakyat, bawahan dan pengikutnya tentang “keagungan” kepentingan diri dan kelompok”. Mereka mencabik dan mencampakan Pancasila. Nilai-nilai Pancasilah hanyalah untaian kalimat yang sudah ditidak menginspirasi lagi. Pancasila bukan lagi dasar Negara karna dasar Negara sudah diganti dengan dogma kelompok, AD/ART partai Poltik yang korup. Cinta dalam Totalitas bagi bangsa ini, warisan dari Sang Pendiri Bangsa, telah pudar dan hilang maknanya. Perterjamahan makna Cinta ini dikuatkan oleh Gus Dur dalam Spirit Pluralisme pun semakin tercabik-cabik karna Ia Pemimpin tidak memiliki Cinta pada Negeri ini. Kaum minoritas setiap saat hidup dalam ketakuatan, merasa terasing di negeri sendiri. Para petani di pedalaman Kalimantan, Sumatera terdepak dari warisan tanah leluhur mereka karna kehadiran para konglomerat yang mencaplok lahan ulayat dengan cara-cara korup. Kebebasan beragama tersandung oleh gerombolan-gerombolan yang mengatasnamakan agama dan pemerintah pun takut dengan mereka. Petisi penolakan SBY menerima penghargaan ACF menegaskan bahwa Ia SBY tidak mencintai Bangsa ini. Jika SBY mencintai bangsa dan rakayatnya maka ia tidak sebatas imbauhan, sebatas hasil rapat kabinet tetapi ia terjun langsung memastikan warga Ahmadya kembali ke rumah mereka dengan rasa aman, Ia terjun langsung memastikan warga GKI Yasmin beridabah di Gereja, Ia terjun langsung memimpin evakuasi para korban longor di penambangan Freeport. Soekarno mencintai bangsa ini dalam ketotalan pemberian diri. Ini berbeda dengan SBY. Ia mencitai negeri ini demi : 1. Pencitraanya 2. Demi partai politik 3. Demi lingkaran keluarganya 4. Demi ketakutan pada golongan tertentu 5. Demi pengharagaan semu dari pihak Asing Jika Ia SBY benar-benar mencintai bangsa ini maka ia tidak akan tampil dengan “cengegesannya” sukan mengeluh alias Curhat. Para tokoh bangsa, kata Anies Basweda memiliki peluang untuk mengeluh tetapi mereka tidak menyampaikan itu, mereka memilik kesempatan untuk pesismis tetapi mereka terus mengobarkan semangat optimisme. Mengapa? Jawaban, para tokoh Bangsa ini Soerkarno, Hatta, Sjharir, Boedi Oetomo, H. Agus Salim, Mgr Soegiopranoto dll, memiliki CINTA yang TOTAL bagi bangas ini, Cinta yang didasari oleh Pancasila. Melihat kenyataan perjalanan bangsa ini selama kepemimpinan SBY, apakah SBY sungguh-sungguh mencintai bangsa ini? Kenyataan Pluralisme sebagai wujud dari Nilai-Nilai Pancasila tercabik dan pemerintah diam. Negara tidak hadir bagi kaum minoritas. Kekayaan alam dirampok melalui perusahaan asing dan dirampok oleh para koruptor di dalam negeri. Negara seperti kue yang dibagi-bagikan bagi kepentingan politik. Semuanya ini terjadi karna pemimpin, kepala negara ini tidak lurus. Akibat kepala tidak lurus maka kebawahnya juga tidak lurus (seperti ungkapan Ahok). berdasarkan uraian di atas maka bagi saya, SBY tidak mencintai bangsa ini, yang terjadi SBY sedang mengkianati Pancasila….. menurut anda? Salam

Wednesday, 29 May 2013

MENGINTIP PASAR MALAM DI PENJARINGAN

MENGINTIP PASAR MALAM DI PENJARINGAN





Bicara pasar malam, sudah biasa dan menjadi agenda wajib warga untuk mengurangi isi dompet. Kehadiran pasar malam membantu pertumbuhan ekonomi, menggerakan roda ekomomi. Hadirnya membantu putaran roda semakin cepat. Suasana pasar malam umumnya dikuasi dengan jualan pakaian, sepatu. Para pembeli sibuk mencari dan mecoba ukuran baju, celana, sepatu, sendal dan penjual setia melipat dan merapihkan kembali jualan yang diobarak-abrik. Cape ya syukur kalau si pengobarak-abrik beli dagangan kalau tidak " cape de...." tapi tetap dilayani dengan senyum.

Suasana Pasar malam di Penjaringan  Selasa 28 Mei 2013  berubah wajah. Suara tawaran pembeli dan penjual tenggelam di tengah suara musik dan tepukan tangan. Bukan acara " dangdutan" dengan goyangan yang ngebor tetapi liukan tubuh anak-anak saat membawakan tarian daerah. dan di pinggir arena pementasan ibu-ibu dengan dandanan batik menawarkan aneka produk; Bakso Ikan, Snack, Siomay, aneka minuman dan handycraft yang terbuat dari daur ulang kertas-kertas seperti bungkusan kopi.

Mereka adalah team Bazzar dari PKK Kelurahan Penjaringan, bekerjasama dengan Wahana Visi Indonesia. Team Bazzar ini mencoba mengangkat produk-produk lokal agar semakin dikenal masyarakat .Upaya mensosialisasikan produk-produk lokal ini dikemas dengan kegiatan pementasan malam hiburan sepeti Tarian, Marawis, Komedi peragaan busana, Marawis. 

Tema Bazzar :

 
Menurut pengakuan ibu-ibu PKK, Bu Nur, Istri dari Ketua RW 16 Penjaringan, ini merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh PKK. Sebelumnya PKK terlibat dalam kegiatan Bazzar yang dilakukan di tingkat kecamata dan walikota namun itu hanya utusan dari beberapa RW saja tetapi malam ini semua PKK tingkat unit RW bersatu mewujudkan Bazzar PKK Kelurahan Penjaringan.

Produk unggulan yang dijual dalam kegiatan ini adalah Bakso Ikan. Produk Bakso Ikan ini diproduksi oleh PKK RW 04 Kamal Muara yang dilatih oleh Akademi Pariwisata Indonesia. Mengusung spirit produk Lokal, Bakso Ikan yang diproduksi adalah Bakso Ikan tanpa Zat Pengawet, tanpa Zat Pengembang. Bakso yang sehat dan bergizi bagi anak-anak. 
Sebagai dampigan Wahana Visi Indonesia, PKK Kelurahan Penjaringan dan Kamal Muara membangun  relasi ekonomi dengan mengusung konsep  " Value Chain" . Artinya, PKK Kelurahan Kamal Muara fokus dan berorientasi pada produksi Bakso Ikan yang sehat dan PKK Kelurahan Penjaringan (Team Bazzar) fokus pada marketing.. Bisa baca di http://bolyuran.blogspot.com/2013/04/harapan-itu-perlahan-berwujud.html.

Acara Bazzar malam ini juga diisi dengan atraksi dari para mahasiswa Akpindo yang merupakan mitra Wahana Visi Indoensia dalam pengembangan produk makanan berbasis hasil laut. Momen ini sekaligus ajang promosi Akpindo ke Warga Penjaringan yang belum terlalu mengenal tentang Akpindo.



Fot Atraksi Akpindo :







Daur Ulang :

konsep Bazzar ini juga mengakat tema Lingkungan Hidup.  Melalui pameran Handycraft dari daur ulang kertas kantong kopi PKK mencoba mengajak warga untuk menjaga kebersihan lingkungan. Rencan ke depan, kantong untuk mengisi hasil pembelian tidak lagi dari kantong plastik tetapi dari Tas hasil daur ulang. Diharpkan warga ketika datang mengunjung kegiatan Bazzar atau ke pasar membawa dengan tas-tas dari daur ulang sebagai kantong untuk mengisi barang-barang belanjaan.





Testimoni :

"Saya merasa puas karna kita bisa memulai kegiatan ini. Anak-anak sangat senang karna mendapat tempat dan waktu untuk mempertunjukan kreativiatas dan bakat mereka dan ibu-ibu PKK memiliki pengalaman bagaiman mengelola sebuah kegiatan Bazzar yang menarik " tutur Bu Rina, kader PKK RW 15 Penjaringan.



"Saya sangat senang karna melalui kegiatan ini semua PKK RW bersatu dan kita bisa berjuang bersama mewujudkan produk-produk lokal, khususnya masyarakat semakin mencintai dan mau memakai produk daur ulang" Bu Nani RW 13 Penjaringan 

"wahhhh, cape pak tapi melihat acara ini berjalan lancar dan anak-anak bisa tampil dengan baik, rasa cape itu hilang, Bu Wanti RW 11 Penjaringan

"Bakso Ikan sudah semakin dikenal dan banyak orang suka soalnya sehat, rasanya enak. Jualan bakso ikan tidak harus menungguh bazzar saja tetapi harus rutin. Kalau ada ibu-ibu yang mau jualan kita PKK siap fasilitasi. Artinya Grobak Bakso Ikan dari Wahana Visi Indonesia ini akan dipakai untuk jualan dan modalnya kita PKK yang siapkan., Bu Yulis, Penjual Bakso Ikan, PKK RW 10 Penjaringan

Yadi Suryadi, Katar sekaligus Pengurus RW 13 Penjaringan "dengan kegiatan ini kita bisa tahu apa saja kekuarangan kita. Dengan pengalaman ini, team ini diharapkan semakin berkembang dan menjadi wadah yang tepat bagi marketingnya produk-produk lokal dan melalui kegiatan ini juga kepercayaan diri anak-anak semakin berkembang"

Foto Gerobak Bakso Ikan





Kelompok Teater, acara Peragaan Busana pendemo....

Kelas Marawis RW 11 Penjaringan




"Langkah kecil telah dimulai
Kesuksesan adalah keteguhan untuk terus melangkah
mereka tersenyum
lepas bebas, tawa gembira mereka 
lukiskan indahnya hidup

mulai dari sini, 
mulai tapak ini
mulai lembaran ini
mulai kisah ini
di lembaran ini, kita kisahkan 
tentang Indahnya Hidup....




Salam        

Uran Oncu

Monday, 27 May 2013

kenny rogers - lucille

Saturday, 25 May 2013

SETUJU SBY TERIMA PENGHARGAAN?


www.kompasiana.com/uran



sepenggal monolog imajinatif atas Komentar pada pembaca di Kompas Online 

Di Kolom komentar Kompas Online dengan Judul ” Presiden Tetap Ke AS untuk Terima Penghargaan” seorang kometar dengan akun Jaya Abadi mengatakan“ Mumpung masih dpt penghargaan, soalnya kalau dari dalam negeri dapatnya hujatan melulu.”
Bagi saya menarik komentar ini dan saya sepakat. Ini seperti balas dendamnya SBY.  Sekedar Imajinasi

” Wahai Rakayat Indonesia, saya memang Presiden anda tetapi saya tidak urus kesejahteraan Anda. Soalnya kalian tuh selalu menjelekan saya. Kasihan  tuh kalian, meskipun kalian tetap menggongong saya tetap pergi terima penghargaan”.
Aku lain miftah mengatakan “ bukannya ke papua, melihat keluarga korban musibah freeport malah citra…hilang jati diri pemimpin yg punya sense of social”
ya ialah ngapain saya repot-repot urus papua, kalian tuh biar aja tetap begitu. Kalau ada kasus menyakut pusat maka pengalihan ke kalian….\

Akun Motivator Motivator mengatakan “Presiden RI ini senangnya TERIMA PENGHARGAAN sana sini, buat album CD, ngurusin partainya sendiri, dan menghimbau terus… ngga ada perencanaan strategis yang jelas… krn yang dijalankan ikuti gelombang “Jaga Image” saja.
Keberhasilan saya pimpin negeri ini adalah :

1. Memecahan rekor dalam pengumpulan penghargaan. Sehingga kalau masa pasca saya tidak jadi Presiden, penghargaan ini yang akan menemani saya.

2. Saya buat album untuk menghibur kalian yang hidupnya susaaaaaaaaaaaaaa muluuuuuuuuuuu. Semoga dengan mendengar syair lagu saya kalian tuh jadi kenyang cepat ngantuk dan bobo, lupa protes saya.

3. Urus Partai.
ohhhh ini wajib, no SATU, soal kepentingan rakyat, hahahahahaha, sabar ya. Apalagi kalau soal Pliralisme…. ahhhh biarin itu tugas Presiden berikutnya.
ahhhhh, mata sudah ngatuk  setelah noton bola, Biar Dortmund kalah tetapi mereka bisa mempertunjukan permainan yang indah. Dan SBY Presiden kami mempertunjukan “Kesemuhan Pluralisme”….

Setuju SBY terima Penghargaan, tanyaku pada kucing yang betengger di pagar….
Meonggggggggggg sambil mengibas ekornya…..

YANG BUTA ITU SBY DAN KRONINYA


Lima hari lagi SBY akan tersenyum saat menerima penghargaan sebagai World Statesman Award dari ACF Ia tersenyum karna keberhasilannya dalam " MENGHACURKAN PLURALISME, IA TERSENYUM KARNA NILAI PANCASILA PERSATUAN INDONESIA " diobrak-abrik demi kepnetingan Pencitraannya...
SBY didukung oleh para kroninya tetap tersenyum di atas penderitaan dan tangisan dari korban kekerasan atas nama Agama.


Statemen Mahfud MD  "Penghargaan SBY Tidak Sesuai Fakta Lapangan" menegaskan kembali bahwa suara Romo Franz didukung oleh banyak tokoh masyarakat. Hal ini sekaligus untuk memojokan Dipo alam atas pernyataan bahwa "mata romo Magnis Dangkal"

Romo Franz seorang Guru Besar Filsafat tidak mungkin matanya buta apalagi mata batinnya, mata pencerahan dari sosok Filsuf yang selalu mencari kebenaran. Mengatakan bahwa Romo Franz dangkal dalam melihat kenyataan justru menunjukkan kedangkalan pemahaman orang-orang dekat SBY dalam menyikapi polemik seputar penghargaan bagi SBY.

Romo menyampaikan keberatannya atas pemberian penghargaan ini atas dasar fakta sedangkan Dipo  dan para kroni SBY melakukan pembelaan berdasarkan apa saja pendapat SBY atas peristiwa perendahaan Pluralisme sebagaimana pernyataanya  yang dimuat di kompas online "tu tidak benar. Saya punya buktinya, baik di sidang kabinet maupun hasil sidang kabinet. Pidatonya ada. Jadi tidak mungkin kalau dibilang Presiden tidak memberi perhatian terhadap minoritas," kata Dipo di Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/5/2013).

Argumen yang digunakan adalah isi pidato SBY bukan tindakan SBY yang turun langsung ke wilayah, mengunjungi korban kekerasan. Kalau soal himbauan lewat pidato, seorang anak TKK kalau disuruh berpidato pun bisa menyampaikan himbauan ini. Kehadiran SBY di tengah warga yang mengalami penindasan menegaskan bahwa Negara ada di samping warganya dan bahwa Negara tidak mentoleransi kekerasan. Dengan ini maka para pelaku kekerasan sadar bahwa tidak ada tempat kompromi bagi kekerasan atas nama agama di Negara Indonesia.

Dipo Alam lupa bahwa Negara Indonesia ini lahir dan dibangun atas semangat Pluralisme, Dipo Alam lupa bahwa peran agama lain pun sangat kuat bersama warga negara Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan RI. Dipol Alam dengan pandangan radikalnya yang sempit mencoba membelokan arus penolakan penerimaan penghargaan ini dengan Isu SARA.

Upaya pembelokan isu ini dengan melemparkan isu SARA menunjukan pihak Istana sedang panik, galau dan gagap dalam menjawab petisi penolakan penghargaan ini. Ini bisa dikatakan Konspirasi SARA di mana penguasa mencoba mengadu domba warga sehingga warga sibuk bertikai dan ia SBY terus melenggang menerima penghargaan ini.

Kegalauan SBY dan Kroninya karna kepentingan mereka terusik, rasa aman mereka diganggu, citranya dicoret-coret, keharuman namanya di awal pemilihan pertama Presiden telah berubah, berbauh busuk. Ini berbeda dengan kegalauan seorang Filsuf dalam diri dan diwakili oleh Romo Frans, kegalauan karna nilai-nilai kemerdekaan direndahkan, martabat manusia diinjak, spirit pluralisme dicabik-cabik, tangisan anak-anak karna kehilangan ayah/ibunya menjadi nyanyian tarian bagi pengusaha....

apakah kegalauan Romo Frans demi martabat manusia ini dikatakan dangkal?

JAWABAN TIDAK, YANG BUTA ADALAH SBY DAN KRONINYA...

dari Suara Jalanan, pejuang Pluralisme...







KATA RINDU

********* **** ** *







 tuliskan kata rindu saat rindu itu hadir, 
 tataplah dan bacalah sekali lagi
 lagi dan sekali lagi pelan, 
penuh lembut rasakan ia ada 
karna di sana ia pun merindukanmu 
 saat engkau pergi meninggalkan serpihan kisah, 
secarik kisah di buku ini 
 ia terus merindukanmu, 
 menyusuri kata-katamu di awal hari 
 di saat penat ia membaca lagi
 tiada henti dia membaca
 ia melukiskan namamu 
 dipahat waktu agar cinta itu 
tetap ada meski 
engkau telah pergi 
 sekali lagi ia membaca kata rindu ini…. 



 dari catatan harian anak petani… untukmu ……… 



 Uran Oncu

Friday, 24 May 2013

layu sebelum berkembang

STEFEN ROSE GROUP - PASRAH MELANGKAH - DOLO-DOLO

Wednesday, 22 May 2013

Ketika Demokrat Membuka Pintu bagi Jokowi

Kompas Online menurunkan berita tentang PD yang membuka pintu bagi Jokowi.http://nasional.kompas.com/read/2013/05/22/22315921/Demokrat.Buka.Pintu.Jokowi.dan.Gita.Wirjawan.Ikut.Konvensi Mengutip peryataan Ramadhan Pohan “Dari wajahnya, penampilkan Jokowi itu terkesan tidak akan menyakiti rakyat,” menjadi menarik ketika dibandingkan dengan pernyataan politisi PD Ruhut Sitompul sebelumnya yang sangat merendahkan martaba Jokowi bahwa tidak cocok tukang mebel jadi Presiden. Pernyataan dua poltisi PD ini menunjukkan bahwa di PD para poltisi PD tidak tahu atau gagap dalam melakukan komunikasi Politik. Ruhut menyerang Jokowi bahwa tidak layak dengan sekian alasan yang sangat dangkal sedangkan Ramadhan Pohan mengatakan sebaliknya. Komunikasi Politik yang disajikan oleh PD ke publik menegaskan bahwa galaunya PD dalam mencari calon pengganti SBY yang ” Berhasil” membangun pencitraan diri. Bahwa upaya membuka pintu bagi calon dari luar partai sebenarnya sebagai strategi saja untuk menawarkan nilai jual menghadapi pemilu legislatif 2014. Dengan mengangkat para tokoh yang bersih, mampu seperti Mahfud MD, Gita, Dahlan dan Jokowi PD berharap publik kembali menaruh harapan perubahaan melalui PD. PD berharap para tokoh bersih ini mampu mencuci dosa-dosa PD, mampu menempatkan kembali PD sebaga partai yang dipercaya oleh rakyat di tengah tergerusnya kepercayaan itu. Bagaimana pun ketika si calon yang diusung oleh PD, akan memperjuangkan kepentingan PD sebagaimana selama ini diperankan oleh SBY, kemungkinan-kemungkinan deal poltik akan mewarnai PD yang terkenal dengan Kasus Korupsi. Berkaitan dengan deal Politik Mahfud MD dengan tegas mengatakan bahwa jika ada partai poltik yang mencalonkan dia, beliau tidak mau disandera oleh kepentingan partai. Pertanyaan, apakah PD mau mencalonkan seseorang tanpa ada deal dengan si calon tersebut jika kita merujuk kiprah PD selama ini? Upaya meredam Gejolak Negatif PD Pernyataan Ramadhan Pohan ini sekaligus mungkin sebagai penegasan ke Publik bahwa apa yang disampaikan oleh Ruhut dan politisi PD lainnya yang suka menyerang Jokowi, bahwa para politisi ini tidak mewakili kebijakan PD. Komunikasi yang coba dibangun adalah mendukung Jokowi sebagai sosok yang tepat. Bagi saya ini sebagai upaya meredam cacian publik atas PD yang begitu latah dalam berkomunikasi, yang begitu cepat menyerang Jokowi seperti Latahnya Komnas HAM berdasarkan kepentingan partai,data yang tidak valid dan analisa yang dangkal serta tidak komprehensif. Dengan menyampaikan proses Konvesi PD yang terbukan bagi pihak eksternal PD hendak berupaya memperbaiki citranya apalagi dengan menyertakan nama Jokowi. Bagi penulis, PD sudah tahu bahwa menggandeng Jokowi masuk ke PD tidak mungkin seperti mimpi Real Madrid mendapatkan Messi dari Barca. Yang jelas PDI P tidak mungkin melakukan blunder politik dan Jokowi pun tidak akan mudah masuk dalam permainan kotor PD. Apakah Jokowi mau? PD boleh membuka pintu bagi Jokowi, tapi apakah Jokowi mau? Jawaban sudah tergambar jelas dalam sejumlah pernyataan Jokowi selama ini bahwa dia fokus membenahi Jakarta, meletakkan dasar pelayanan yang baik. Ketika Demokrat mengatakan membuka pintu bagi Jokowi, pada saat yang sama publik pun menertawai PD atas kegagapan mereka dalam membina dan menyiapkan kadernya menggantikan SBY, Presiden yang Berhasil merusak Pluralisme dan keagungan Kebinekaan Indonesia. Jangan mudah percaya pada PD partai yang “akan hancur di pemuli 2014 ini”

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...